Tanggal berapa ya sekarang?

February 2015
S M T W T F S
« Sep    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

Diantama Puspitasari's Blog

Just another weblog

saya saya saya :D

Author: DIANTAMA PUSPITASARI
09 17th, 2010

diantama puspitasari :D
hello diantama puspitasari di sini, saya lahir di bogor, 7 Januari 1993, sekarang saya sudah dewasa, dan kuliah di perguruan tinggi negeri di bogor, yaitu di IPB. manajemen hurtan itu jurusanku, snang rasanya bisa satu fakultas sama ….(zzzz) hehe :p. AYO SEMANGAT TPB!!!! Pasti bisa dapet IPK min 3.. AMIN :D

Aku harus sukses bahagian mama papa ahh :D, sukses, kerja yang jelas, jd pegawai negeri :D. Pubya rumah di Bandung hihi, tapi kalo dapet kerjanya di tempat selain Bandung gpp deh hehe. AYO SEMANGAT! PASTI BISA :D

LOVE YOU ALL :D



PENGORBANAN

Author: DIANTAMA PUSPITASARI
09 17th, 2010

Ini adalah sebuah cerita inspirasi yang saya alami ketika saya SMA, tepatnya ketika pertama kali masuk SMA. Awalnya saya bingung akan mengikuti ekstrakulikuler seperti apa, tengan saya mengajak saya untuk mengikuti ekstrakulikuler paskibra, saya tidak percaya karena saya tidak pernah sekalipun mengikuti ekstra kulikuler seperti itu, malahan saya sempat bilang “ngapan juga ikutan paskibra cuma buat badan jadi item, dispen terus, cape lagi, males banget ikutan.” Ternyata saya “kemakan omongan” saya sendiri. Akhirnya saya berkecimbung di dunia paskibra, memang seru, tetapi sedikit yang tertarik, sehingga kita tidak memiliki terlalu banyak teman, tetepi kakak senior kami sangat banyak, dan mereka semua sangat baik pada kita, sehingga aku betah di ekstrakulukuler ini.

Hari demi hari saya lalui di sini, latihan setiap hari Minggu, dan pada suatu saat senior kami memberi tahu kami, bahwa pada bulan Januari nanti akan di adakan Lomba Ketangkasan Baris Berbaris (LKBB), kami kaget, padahal jumlah angkatan kami kurang dari 20 orang, sampai akhirnya, senior kami menyuruh kami untuk mencari anggota baru lagi, namun tidak seberapa, kami menemukan hanya satu, dua orang, dan ketika mereka menikuti latihan pertama mereka, mereka tidak mau, karena merka tidak suka di suruh push up, lari, dan sebagainya, itulah paskibra, satu demi satu anggota kami berkurang, sampai pada akhirnya anggota angktan kami(angkatan XX) hanya tinggal 15 orang.

Bulan Desember pun tiba, akhirnya senior kami memutuskan untuk menambahkan dari angkatan XIX lima orang, kami sangat semangat, karena akhirnya pasukan kami fix 20 orang. Hari demi hari, latiha demi latihan, kami lalui bersama, cape k, haus, kami rasakan bersama, ketika temankami tidak bisadatang latihan,pulang latihan kami satupasukan menghamiri rumahnya. Ketika itu penjuru (orang yang penting) kami, tidak bisa datang karena sakit, rumahnya diCitereup, tidak seorangpun dari kami tahu, dimana rumahnya, kami hanya mendapatkan petunjuk dari teman SMPnya yang juga blm pernah kesana, hanya melihat dari buku tahunan, kami mencari-cari lokasi rumahnya, bertanya kepada tetangga-tetangganya, sampai pada akhirnya kami menemukan rumahnya. Rasa bangga pada kami karena kami dapat menemukan rumah teman kami. Keesokan harinya teman kami datang untuk latihan bersama kami.

Hari demi hari berlalu, tibalahsaat yang ditunggu-tunggu yaitu UCL (Uj Coba Lapangan). Jujur, tidak dapat di pungiri, bahwa UCL kita sangatlah buruk, melewati garis, tabrakan, karena UCL yang kita lakukan setelah magrib, selain itu, lantai yang sangat licin,membuat kami sangat gugup. Setelah selesai UCL, senior kami mengetes mental kami dengan memarah-marahi kami, sedih, takut, karena kami tidak maksimal, padhal seminggu lagi sudah lomba babak penyisihan, sampai larut kami di marahi, dan pulang pun larut dari Balai Kota Bogor, sampai durumah tidak hanya saya, tapi semua teman-temandimarahi oleh orang tua, capek, lelah, itulah yang kami rasakan.

Berbagai pengorbanan telah kami keluarkan, hujan-hujanan, darah, air mata, kami sangat senang karena kami bersamadan tidak sendiri. Seminggu setelah UCL berlalu, sekarang sudah hari H lomba, semua orang dari yang awam sampai yng benar-benar mengerti ‘apa itu baris’ semia datang untuk menonton dan memberi semangat kepada adik-adiknya, dari yang masih kecil sampai yang sudah tua, menonton untuk melihat cucu, anak, dan saudaranya yang ingin berlomba. Gugup, gemetar, takut, kami rasakan, karena ini lomba perdana kami, kami keluarkan yang terbaik darikami, kami keluarkan yang kami miliki, hampir salah satu dari kami jatuh di lantai Balai Kota, karena gugup, 13menit berlalu, senior memberi semangat kami bahwa kami sudah maksimal, kami belum bisa bangga, karenakami belum tahu hasilnya. Setelah magrip pengumuman, kami bersiap, solat, berdoa, memintayang terbaik dan di ridoi oleh Allah. Seluruh pasukan berbaris di lapangan, SMP dan SMA, selama pengumuman, kami hanya berdoa, dan tidak menunjukan ekspresi apa-apa hanya senyum. Pengumuman SMA pun tiba, di sebutkannya dari juara Harapan 2, Harapan 1, dan Juara 3, 2, 1. Sampai di juara 2, kami ‘deg degan’ ternyata kami di sebutkan sebagai juara ke 2, babak penyisihan, sujud syukur lah kami di tempat. Berbagai perjuangan yang kami berikan ternyata tidak sia-sia, tidak hanya di sini, kami masih harus berjuang di babak final, yaitu di GOR Pajajaran Bogor,tempat yang sangat ramai dan menggema suarannya, jika tidak kedengaran suara komando, kami akan buyar dan tidak konsentrasi. Seminggu berlalu, tibalah di GOR, ketika sudah sampai di daerah persiapan, kami berzikir, berdoa kepada Allah, karena, kami tidak inginperjuangan yang kita berikan sia-sia. Semuanya telah kami keluarkan, katena ini lomba terakhir kami tingkat Kota Bogor. setelah magrib, pengumuman hasil lomba, dan ketika di umumkan juaranya, ternyata kami juara 3 LKBB tingkat SMA. SANGAT BANGGA, karenasemua perjuangan kami tidak sia-sia, saingan kami menduduki peringkat harapan 1. Airmata yang keluar, adalah airmata kebahagiaan, pulang kerumah, orang tua kami tidak marah karena kami menceritakan bahwa kami juara 3, dan mereka bangga kepada kami, meskipun hanya juara 3, tetapi perjuangan dan pengorbanan yang kami berikan sangat sebanding, sang juara 1 mengorbankansemuanya melebihi kami.

Suatu petikan yang dapat diambil dari cerita pengalaman saya ini adalah, segala bentuk pengorbanan pasti ada hasilnya, dan pengorbanan, sebanding dengan hasilnya, jika sangat berkorban, maka Allah akan memberikan hasil yang sebanding, begitupun sebaliknya, tidak ada yang tidak mungkin, karena Allah sangat sayang dengan kita dan Allah, selalubersama kita.



8×3=23

Author: DIANTAMA PUSPITASARI
09 17th, 2010

Ada seorang murid kesayangan seorang guru yang bernama Yan Hui, ia adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar dan sifatnya baik. Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumunin banyak orang. Dia mendekat dan melihat ada pembeli dan penjual kain sedang berdebat.

Pembeli berteriak: “3×8 = 23, kenapa kamu bilang 24?

“Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: “Hei, 3×8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi”.

Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: “Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan”.

Yan Hui: “Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?”

Pembeli kain: “Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?”

Yan Hui: “Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu”.

Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius. Setelah Confusius tahu duduk persoalannya, Confusius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: “3×8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia”. Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain.

Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya. Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, dan memberi Yan Hui dua nasehat : “Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh”. Yan Hui bilang baiklah lalu berangkat pulang.

Di dalam perjalanan tiba-tiba angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba-tiba ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti.

Apakah saya akan membunuh orang? Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan mengetahui ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius, jangan membunuh. Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata: “Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?”

Confusius berkata: “Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh”.

Yan Hui berkata: “Guru, perkiraanmu hebat sekali, muridmu ini sangatlah kagum.”

Confusius bilang: “Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3×8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3×8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan kehilangan satu nyawa. Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan satu nyawa yang lebih penting?”

Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : “Guru mementingkan yang lebih utama, namun aku malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Aku benar-benar malu.” Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.

Cerita ini mengingatkan kita:

Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia, tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya. Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting. Banyak hal ada kadar kepentingannya. Janganlah gara-gara bertaruh mati-matian untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat.Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.

Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.

Bersikeras melawan atasan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.

Bersikeras melawan suami. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga.

Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga

Kemenangan bukanlah soal medali, tapi terlebih dulu adalah kemenangan terhadap diri dan lebih penting kemenangan di dalam hati.

BE A WINNER!